Peningkatan Keterampilan Melalui Pelatihan Literasi Keuangan dan Kewirausahaan Mikro Pada Anak Panti Yatim Indonesia Tebet
- Penulis: Irwin Ananta Vidada, SE, MM
- 04 Oktober 2026
- dilihat: 20
JAKARTA — Bagaimana jika sejak kecil anak-anak sudah diajarkan bukan hanya cara mendapatkan uang, tetapi juga bagaimana mengelolanya? Pertanyaan sederhana tersebut menjadi salah satu pesan yang dibawa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) di Panti Yatim Indonesia (PYI) Tebet, Jakarta Selatan.
Melalui kegiatan bertema “Peningkatan Keterampilan Melalui Pelatihan Literasi Keuangan dan Kewirausahaan Mikro pada Anak Panti Yatim Indonesia Tebet”, tim Abdimas UBSI mengajak anak-anak memahami keuangan dengan cara yang sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan tidak terkesan sebagai pelajaran yang rumit.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 4 Oktober 2026 ini menjadi bagian dari komitmen UBSI untuk menghadirkan kontribusi perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pembelajaran di lingkungan kampus, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Belajar Menaklukkan Uang
Dalam sambutan pembukaan, Irwin Ananta Vidada, S.E., M.M., anggota tim Abdimas UBSI, membuka wawasan peserta dengan memperkenalkan gagasan sederhana tentang bagaimana “menaklukkan uang”.
Menurutnya, anak-anak tidak harus menunggu dewasa untuk belajar mengelola uang. Ketika seorang anak mulai menerima uang saku, membeli sesuatu, memilih antara kebutuhan dan keinginan, atau menyisihkan uang untuk keperluan berikutnya, pada dasarnya mereka sudah mulai belajar mengambil keputusan keuangan.
“Menaklukkan uang bukan berarti harus memiliki banyak uang. Justru yang penting adalah belajar mengatur uang yang kita miliki, sehingga kita tidak mudah dikendalikan oleh keinginan,” menjadi pesan yang relevan untuk diperkenalkan kepada anak-anak melalui pendekatan literasi keuangan yang sederhana.
Pesan tersebut diarahkan agar peserta memahami bahwa mengelola uang bukan sesuatu yang sulit. Kebiasaan kecil seperti menabung, membuat prioritas, tidak terburu-buru membeli sesuatu, dan memikirkan kebutuhan di masa depan merupakan bagian dari kemampuan mengelola keuangan.
Irwin yang juga merupakan staf Wakil Rektor II bidang kemahasiswaan UBSI melihat kegiatan Abdimas sebagai ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan dosen dengan pengalaman mahasiswa di tengah masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam kegiatan sosial semacam ini memberikan pengalaman pembelajaran yang berbeda. Mahasiswa tidak hanya belajar dari teori di kelas, tetapi juga berhadapan langsung dengan kebutuhan dan karakter masyarakat yang dilayani.
Dosen dan Mahasiswa UBSI Turun Bersama
Kegiatan Abdimas tersebut dipimpin oleh Dedi Suharyadi, S.E., M.M., sebagai ketua pelaksana. Tim juga melibatkan Lukman Hakim, S.Sos., M.M. sebagai tutor, Dr. Sabil, S.E., M.M., dan Irwin Ananta Vidada, S.E., M.M., sebagai anggota pelaksana.
Dua mahasiswa UBSI, Husnul Chotimah dan Rohma Khoirunnisa, turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari semangat kolaboratif yang dibangun dalam program tersebut. Mereka membantu pelaksanaan kegiatan sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar ruang kelas.
Menurut Dedi Suharyadi, S.E., M.M., kegiatan Abdimas tidak hanya dimaksudkan untuk menyampaikan materi, tetapi juga memberikan bekal yang dapat digunakan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Literasi keuangan sebaiknya dikenalkan sejak dini melalui hal-hal yang sederhana dan dekat dengan kehidupan anak. Ketika mereka terbiasa membedakan kebutuhan dan keinginan, menabung, serta memahami cara menggunakan uang secara bijak, sebenarnya mereka sedang membangun kebiasaan yang akan berguna untuk masa depan,” ujarnya.
Dedi menambahkan, keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari proses pengabdian. Kolaborasi tersebut memungkinkan materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dikemas lebih komunikatif dan sesuai dengan kondisi peserta.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki keberanian untuk mulai mempraktikkannya. Hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi kebiasaan positif,” tambahnya.
Literasi Keuangan sebagai Bekal Masa Depan
Materi yang diberikan tidak sekadar mengenalkan istilah-istilah keuangan, tetapi diarahkan pada persoalan yang dekat dengan keseharian anak. Peserta diajak memahami pentingnya menabung, mengelola uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mulai mengenali peluang sederhana dalam kewirausahaan.
Bagi anak-anak, literasi keuangan mungkin terdengar sebagai istilah yang cukup serius. Namun, melalui kegiatan ini, konsep tersebut diterjemahkan menjadi kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak-anak diperkenalkan pada pemahaman bahwa uang memiliki nilai dan perlu dikelola. Menabung bukan sekadar menyimpan uang, tetapi juga belajar menunda keinginan untuk sesuatu yang dianggap lebih penting di kemudian hari.
Kegiatan ini juga memperkenalkan dasar kewirausahaan mikro. Anak-anak didorong untuk mulai melihat bahwa kreativitas dan kemampuan membaca peluang dapat menjadi bekal untuk menciptakan sesuatu yang memiliki nilai.
Proposal kegiatan Abdimas UBSI sendiri menempatkan literasi keuangan dan kewirausahaan sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian anak. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola keuangan sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Kegiatan di PYI Tebet juga memperlihatkan bagaimana kampus dapat hadir melalui pendekatan yang lebih humanis. Pengetahuan yang dimiliki dosen tidak berhenti di ruang kuliah, sementara mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar berinteraksi dan berkontribusi langsung kepada masyarakat.
Pada akhirnya, pesan yang ingin dibangun sederhana: anak-anak tidak harus menunggu dewasa untuk belajar mengelola uang. Dengan memahami uang sejak dini, mereka sedang menyiapkan salah satu bekal penting untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri di masa depan.
Bagi UBSI, pengabdian semacam ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang berdampak—menghubungkan pengetahuan, kepedulian sosial, serta kolaborasi dosen dan mahasiswa untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
