Fusion Fest 2025: Fusing Leadership, Language, and Creativity
- Penulis: Yesni Malau, M.Kom
- 21 Desember 2026
- dilihat: 357
Jakarta, 20 Desember 2025 — Fusion Fest 2025 sukses diselenggarakan sebagai wujud kolaborasi strategis tiga organisasi mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), yakni Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik dan Informatika (BEM FTI), Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris (HIMABI), dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UBSI, dalam menghadirkan ruang intelektual yang inklusif dan relevan dengan tantangan zaman. Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antar ORMAWA dalam mendorong penguatan kapasitas mahasiswa di bidang teknologi, bahasa, dan komunikasi publik.
Ketua Pelaksana Fusion Fest 2025, Safri Rawaskho, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan dengan lancar dan penuh antusiasme. Ia menegaskan bahwa Fusion Fest menjadi wadah kolaborasi lintas organisasi mahasiswa UBSI yang memadukan kepemimpinan, kemampuan berbahasa, dan kreativitas melalui berbagai seminar inspiratif. Partisipasi aktif peserta, kualitas diskusi yang dinamis, serta antusiasme tinggi menunjukkan bahwa kegiatan ini mampu menjadi ruang pengembangan diri sekaligus menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat.
Mengusung tema “Fusing Leadership, Language, and Creativity” dengan slogan “Unite, Compete, and Inspire”, Rawas berharap Fusion Fest dapat dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun sebagai awal perubahan dan gebrakan kolaboratif antar organisasi mahasiswa UBSI. Ia juga menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai sarana memperkenalkan organisasi kemahasiswaan kepada mahasiswa secara lebih luas.
Rangkaian Fusion Fest 2025 diselenggarakan dalam beberapa sesi seminar pada 13 dan 20 Desember 2025 di Kampus UBSI Kramat 98, dengan tiga tema besar yang saling terhubung. Pada 13 Desember 2025, kegiatan diawali dengan Seminar T.E.K.N.O (Transformasi Edukasi, Kolaborasi, dan Inovasi) yang berfokus pada upaya mewujudkan sumber daya manusia unggul di bidang teknologi melalui sinergi antara dunia pendidikan dan pelatihan kerja.
Dalam Seminar T.E.K.N.O, Ridla Dratistiwa, S.Kom. dari Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Selatan menekankan pentingnya kolaborasi strategis antara institusi pendidikan dan lembaga pelatihan sebagai langkah konkret dalam menyiapkan generasi muda yang adaptif dan kompetitif di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Ia juga menjelaskan bahwa PPKD merupakan fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan akses pelatihan kerja, pengembangan keterampilan teknis maupun non-teknis, serta membuka peluang kerja dan wirausaha berbasis kompetensi.
Menanggapi pelaksanaan Seminar T.E.K.N.O, Ketua BEM FTI UBSI, Elvan Nakula menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting bagi peserta untuk memahami keterkaitan antara pembelajaran akademik dan kebutuhan dunia industri. Ia menilai pemaparan mengenai peran PPKD memberikan gambaran konkret bahwa peningkatan kompetensi dan penguasaan teknologi memerlukan dukungan ekosistem pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan, sehingga mahasiswa diharapkan lebih siap dan percaya diri dalam menghadapi dunia kerja.
Melanjutkan rangkaian kegiatan pada 20 Desember 2025, Fusion Fest 2025 mengangkat tema perkembangan bahasa di era digital melalui diskusi LinguaTech: Digital Linguistics Tech’s Role in Shaping Our Speech and Writing. Samuel David Blanch, Ph.D., dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), membahas pengaruh teknologi, termasuk kecerdasan buatan, terhadap pola komunikasi, struktur bahasa, serta cara berpikir masyarakat modern, sekaligus menyoroti potensi dampak negatif dari ketergantungan berlebihan pada AI terhadap kemampuan berbahasa dan berpikir kritis.
Ketua HIMABI UBSI, Febri Azwar Ilham, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan Fusion Fest 2025. Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan wawasan dan inspirasi, serta menjadi langkah awal dalam membentuk mahasiswa UBSI yang kritis, kreatif, dan mampu bersaing secara global.
Pada hari yang sama, diskusi diarahkan pada tantangan komunikasi publik melalui tema Bicara Cerdas di Era Bising: Tantangan Public Speaking di Tengah Krisis Makna dan Opini. Dalam sesi ini, Rafika Ludmilla, S.E., M.Ak., QRMP., CPPS, Nur Syifa, S.M., CDM., CCC, dan Reza Pahlevi, M.I.Kom menekankan pentingnya kemampuan berbicara yang kritis, etis, dan bermakna di tengah arus informasi yang masif serta beragam opini publik. Para narasumber juga menggarisbawahi bahwa sikap kritis mendorong individu untuk berani menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab dan berani untuk bersuara. Selain itu, peserta diajak untuk selalu bersikap selektif dan reflektif terhadap setiap informasi yang diterima dengan menelusuri kebenaran dan konteksnya, sehingga tidak menelan informasi secara mentah tanpa proses verifikasi.
Melalui kolaborasi BEM FTI, HIMABI, dan MPM UBSI, Fusion Fest 2025 tidak hanya menjadi agenda akademik semata, tetapi juga ruang integratif yang mempertemukan perspektif teknologi, linguistik, dan komunikasi dalam satu kesatuan gagasan. Kegiatan ini diharapkan mampu memperluas wawasan, memperkuat daya pikir kritis, serta membentuk karakter mahasiswa yang adaptif, komunikatif, dan siap berkontribusi di masyarakat.
