Mahasiswa BSI Explore Bantu Digitalisasi dan Promosi Usaha Kerupuk Kencur Abah Aep di Desa Walahar
- Penulis: Irwin Ananta Vidada, SE, MM
- 22 Agustus 2026
- dilihat: 18
Karawang, 21 Agustus 2026 - Di tengah geliat industri rumahan yang kian tergerus zaman, usaha Kerupuk Kencur milik Abah Aep masih terus berproduksi meski dengan berbagai keterbatasan. Usaha yang telah berdiri sejak tahun 1999 ini menjadi salah satu potensi ekonomi lokal yang patut mendapat perhatian, khususnya dalam hal permodalan dan pemasaran digital. Sebagai bentuk kepedulian, enam mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika turun langsung membantu promosi usaha ini. Usaha kerupuk kencur ini dikelola oleh Abah Aep bersama keluarganya, sebagai usaha turun-temurun dari generasi ayah ke anak. Penelusuran dan penulisan artikel ini dilakukan oleh enam mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika, yaitu M. Nopta Hibatulloh, Mickdan Hafid, Arini Siti Sundari, Alya Andiani, Nabila Dian Santika, dan Arifah Hijriyah Wiva. Usaha ini memproduksi kerupuk kencur, camilan tradisional khas dengan bahan utama tapioka dan kencur. Produk dikemas dalam dua jenis kemasan, yaitu kemasan kecil seharga Rp5.000 yang biasa dijual di warung, dan kemasan satu ball seharga Rp60.000 untuk penjualan grosir ke agen dan pedagang atau pemesan. Usaha ini telah berjalan sejak tahun 1999. Sebelum pandemi Covid-19 pada 2020, usaha ini sempat mempekerjakan hingga 12 karyawan. Namun sejak pandemi melanda, jumlah produksi dan tenaga kerja mengalami penurunan drastis hingga saat ini. Lokasi produksi berada di Kp. Pabrik Aci, Dusun Mangga Besar 2, RT 18/RW 04, Desa Walahar, Kecamatan Klari. Penurunan produksi disebabkan oleh menurunnya penjualan sejak pandemi Covid-19, sehingga usaha ini kini hanya mampu memproduksi sekitar satu ball atau 40 kg kerupuk per hari. Keterbatasan modal juga menjadi kendala utama, sehingga Abah Aep tidak dapat mempekerjakan karyawan tambahan dan kini produksi sepenuhnya dijalankan oleh anggota keluarga. Selain itu, Abah Aep belum memasarkan produknya melalui marketplace karena membutuhkan biaya tambahan untuk mengganti kemasan agar lebih menarik serta mencetak logo pada kemasan tersebut. Karena alasan ini, ia memilih strategi pemasaran konvensional, yakni menitipkan produk ke warung-warung dan agen kelontong, serta melayani pedagang lain yang membeli untuk dijual kembali. Proses pembuatan kerupuk kencur dimulai dari pencampuran bahan utama, yaitu tepung tapioka dan kencur, dengan bahan pelengkap lainnya hingga menjadi adonan. Adonan tersebut kemudian dipres menggunakan alat pres oven dengan sistem api atas-bawah. Setelah dipres, kerupuk didiamkan pada suhu ruang selama kurang lebih 10 jam sebelum akhirnya siap untuk digoreng dan dikemas. Sebagai bentuk kontribusi nyata, tim mahasiswa turut membantu membuatkan banner usaha agar masyarakat sekitar lebih mengenal bahwa rumah tersebut merupakan tempat produksi kerupuk kencur, serta mendaftarkan lokasi usaha ke Google Maps guna memudahkan calon pembeli menemukan lokasi produksi. Dengan potensi rasa dan sejarah panjang yang dimilikinya, Kerupuk Kencur Abah Aep sesungguhnya memiliki peluang besar untuk berkembang lebih jauh, asalkan mendapat dukungan permodalan dan pendampingan digitalisasi pemasaran dari pihak-pihak terkait.
